Diet Karnivora: Kembalinya Pola Makan Leluhur di Era Modern


​Diet karnivora, atau pola makan yang hanya mengonsumsi produk hewani sepenuhnya, telah beralih dari sekadar eksperimen ekstrem menjadi salah satu tren kesehatan paling kontroversial namun populer di dunia. Berbeda dengan keto yang masih mengizinkan sayuran rendah karbohidrat, diet ini secara ketat mengeliminasi semua tumbuhan—termasuk buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan.


​Asal-Muasal: Dari Zaman Es hingga Laboratorium Medis

​Para pendukungnya berargumen bahwa selama periode Zaman Es, leluhur manusia bertahan hidup hampir sepenuhnya dari daging hewan buruan yang tinggi lemak dan protein karena kelangkaan tumbuhan.

​Secara medis, eksperimen diet ini mulai terdokumentasi pada abad ke-19:

  • Bernard Moncriff (1856): Penulis asal Jerman ini menulis "The Philosophy of the Stomach", menceritakan setahun penuh hidup hanya dengan daging sapi dan susu.
  • Arnaldo Cantani (1870-an): Dokter asal Italia yang meresepkan diet eksklusif daging untuk pasien diabetesnya guna mengontrol gula darah.
  • James H. Salisbury (1880-an): Pencipta Salisbury Steak, yang meyakini bahwa sistem pencernaan manusia paling cocok untuk daging dan menyarankan konsumsi daging sapi cincang serta air panas untuk kesehatan.

Perkembangan Saat Ini: Revolusi Media Sosial

​Di era modern, diet ini meledak sekitar tahun 2018 berkat kekuatan platform digital. Saat ini, diet karnivora bukan sekadar cara menurunkan berat badan, tetapi sering digunakan sebagai diet eliminasi ekstrem bagi mereka yang menderita penyakit autoimun, peradangan kronis, atau masalah pencernaan yang tidak teratasi oleh pengobatan konvensional.

​Beberapa nama besar telah menjadi wajah dari gerakan ini, membawa diet karnivora ke arus utama:

​1. Dr. Shawn Baker

​Mantan dokter bedah ortopedi dan atlet pemegang rekor dunia ini adalah sosok yang memopulerkan istilah "Carnivore Diet" melalui bukunya pada tahun 2018. Ia menjadi bukti hidup bahwa performa fisik atletik dapat dipertahankan tanpa karbohidrat.


​2. Jordan & Mikhaila Peterson

​Psikolog terkenal Jordan Peterson dan putrinya, Mikhaila Peterson, adalah pendorong utama populernya diet ini. Mikhaila mengklaim bahwa diet yang dia sebut sebagai "The Lion Diet" (hanya daging ruminansia, garam, dan air) telah menyembuhkan penyakit rematik parah dan depresi yang ia derita sejak kecil.


​3. Dr. Paul Saladino ("Carnivore MD")

​Meskipun sekarang ia telah beralih ke pola makan "Animal-Based" (sedikit menambahkan buah dan madu), Saladino adalah intelektual utama di balik sains diet karnivora, sering membahas bahaya "anti-nutrisi" dalam tumbuhan seperti lektin dan oksalat.


​4. Tokoh di Indonesia

​Di Indonesia, antusiasme terhadap diet ini juga meningkat. Beberapa nama yang sering mengedukasi masyarakat adalah:

  • dr. Hendri Andreas: Aktif membagikan konten mengenai diet karnivora sebagai solusi kesehatan metabolik di media sosial.
  • Felix Zulhendri, Ph.D: Seorang ilmuwan yang sering membahas mekanisme biokimia di balik diet rendah karbohidrat dan karnivora.
  • Putra Wijaya: Influencer gaya hidup sehat yang sukses bertransformasi fisik melalui metode ini.

Awan (Andreas Hermawan)

Komentar

Postingan Populer